Thahira oh Thahira (2)

Akhwat, keibuan, anggun, sholehah…wah itu kira-kira gambaran pada Thahira. Sifatnya yang cewek banget membuat teman-teman semua suka padanya. Baru kali ini saya melihat akhwat se-dewasa dia dalam usia yang kira-kira masih 9 tahun. Bahkan sempat beredar gosip yang segera diketahui kebenarannya bahwa banyak juga ikhwan cilik yang suka dengan dia. Hehe, yah pinter bener tuh ikhwan milih bibit unggul tapi kira-kira udah ngukur diri belum ya? Hahaha, ya belumlah namanya juga anak-anak, mereka akan mengatakan apa saja yang terlintas dalam fikiran mereka tanpa berfikir terlalu jauh.

Diri ini tentu saja merasa malu mengingat pada usia 9 tahun dahulu, saya adalah anak keras kepala yang baru bisa membaca Alqur’an, suka ngeyel kalo disuruh, dan masih berpakaian seadanya kadang-kadang masih suka nyuri-nyuri ga shalat hehe. Untung aja ga ada foto masa lalu tersebut hehe.

Betapa beruntungnya Anda yang sudah baik dan sholehah dari masa kecil J

Cinunuk, Desember 2011

Everything can Changes

Seksi acara-ers. Itu julukan yang tepat bagiku, sebab seringkali dimana-mana aku menjadi seksi acara yang tugasnya adalah membuat konsep. Memang dari dulu bekerja di belakang layar sih hehe… memang udah bakatnya kali yaaa….jadilah pada event ke sekian kalinya, aku menjadi sang seksi acara yang akan merancang garis besar kegiatan kemah para siswa kali ini.

Namun, bagian paling menarik dari menjadi seksi acara adalah memantau saat kegiatan berlangsung. Bukan memantau acaranya, namun memantau perilaku para siswa, ya maklumlah hobinya emang suka mengamati orang lain (giliran diri sendiri, jarang introspeksi hihi). Yang unik dan menarik tentu saja, para siswa kali ini berada dalam suasana berbeda. Jauh dari orang tua, menyelesaikan masalah sendiri, ga boleh minta tolong dan sebagainya. (yeah, padahal gw dulu juga masih suka nangis kepada ummi).

Ajaibnya, seringkali ditemukan perilaku yang berbeda dan tak disangka-sangka. Seorang anak yang sehari-harinya males, bisa jadi kelihatan rajin dan berfokus tugas, jika diserahi sebuah tantangan. Seorang anak yang ceria dan populer jadi mudah menangis, ketika tidak bisa mendirikan tenda dengan cepat. Seorang anak yang bertipe-kan pemikir, akan merancang tendanya dengan sempurna sangat, hingga aku curiga jangan-jangan di mengukur kemiringan tenda sekian derajat dan ga boleh meleset satu senti meterpun. Seorang anak yang gilang gemilang dalam prestasi akademisnya, ternyata ga tau apa bumbu masakan. Seorang anak yang sehari-harinya minder, malah jadi sedikit terangkat kepercayaan dirinya karena sebuah amanah. Seorang anak yang menjadi kepercayaan diam-diam dari temannya, akan dijagokan untuk memegang amanah tertentu. Dan banyak anak-anak yang karena terbiasa mungkin dimanja di rumah, ga bisa cepat gesit bertindak ketika memasak. Diam aja ketika parafinnya habis, anteng aja ketika tempat masaknya berantakan, gugup ketika memasak nasi goreng, hingga api sudah dinyalakan dan minyak sudah panas, eh ternyata bumbu-bumbunya belum diiris, tolooong dong sayang…..

Itulah masa-masa melihat sisi lain kehidupan seorang anak. Yah, sebagaimana kata Umar bin Khattab, hanya dengan melakukan perjalanan jauh dan bermalam, maka kita bisa mengenal sifat asli seseorang.

See you in others story……

Cinunuk, 29 Desember 2011

berdamai dengan kenyataan

“ Bila aku mengalami kesusahan, maka cukuplah bagiku untuk menangisinya semalaman. Besok paginya, aku takkan menangis lagi. Aku memutuskan untuk bangkit!

 (Andrea Hirata, CINTA DI DALAM GELAS)

Cooking or not Cooking?

Hujan basah kuyup mengguyur kota Bandung sore ini. Bandung yang dahulu kala dikenal dengan kota Bandung Lautan Api, sekarang berubah status jadi Bandung lautan banjir. Hehe, istilah yang kubuat sendiri untuk mengenang kota yang penuh nostalgia ini. Banjir, dimana-mana ada air. Daerah resapan air nyaris punah dari kota ini.

Saya meringkuk di sudut angkot 23 kuning jurusan Ciroyom-Cikudapateuh. Apa daya, hujan yang sangat deras membuat airnya menyelinap merembes ke dalam angkot. Hanya menyisakan bagian ujung angkot yang save dari rembesan air, dan alhamdulillah ini adalah posisi saya saat itu. Di angkot ada beberapa penumpang di depan saya ada 2 penumpang yang kelak akan menjadi tokoh sentral cerita kita kali ini.

Mereka 2 orang wanita yang berpakaian modis dan cantik, tasnya lumayan bagus dengan dandanan yang rapi. Dari penglihatan sekilas, tampak 2 wanita ini amat care dengan penampilan. Saya rasa mereka itu sudah menikah hehe bener saja. Omongan keduanya adalah tentang keluarga. Kayaknya seru, jadi saya putuskan saja untuk menguping pembicaraan mereka sembari pura-pura melihat ke sudut lain hehe siapa tau ada bahan menarik yang layak dituliskan.

Dan oow….simak pembicaraan yang berhasil saya kuping sambil memandang derasnya hujan.

Wanita A              : “Aku mah udah 15 tahun kerja di sono”

Wanita B              :”Waw lama banget elu di sono, betah ya?”

Wanita A              :”Yah, dibetah-betahin aja”

Wanita B              :”Sedari gw masih gadis sampai sekarang udah nikah dan punya anak.”

Wanita A              :”Ohya…”

Wanita B              :”Ya, sekarang gw dah punya anak 1, anak gw di titip di mertua. Tau ga elu kalo gw itu ga masak di rumah. Abis, lu tau sendiri rutinitas gw. Kalau pagi gw makan nasi kuning, siang makan di kantor, malam ya kalo suami gw kadang makan di rumah ibunya, gw sendiri ya kadang udah berasa kenyang gitu…jadi ga makan lagi

Wanita A              :”Jadi elu ga masak sama sekali?”

Wanita B              :”Ya, ada tuh di kulkas bahan-bahan masak. Kayak telur, nugget dan mie. Kalau malam-malam gw lapar tinggal ceplok telur, nyeduh mie, atau goreng nugget, udah (cuek banget gayanya).

Hujan semakin deras, dan menguping jadi semakin enak heheh

Wanita A              :”Kalo gw mah, Sabtu Minggu mengusahakan buat masak. Ya, Masak ga masak sama sekali, kalau ga masak mah nanti apa kata mertua, anaknya engga diurusin sama sekali..”

Wanita B              :  (agak manyun tapi akhirnya senyum)

Hujan deras terus mengguyur bumi. Tibalah saatnya bagi kedua wanita karir tersebut untuk turun.Perbincangan keduanya membuat sudut otak saya serasa digelitik. Pasalnya, agak-agak miriplah. Seorang wanita pekerja yang lumayan sibuk dan ga terlalu gape dalam urusan rumahtangga hehe. Sekarang-sekarang  saja yang rada rajin karena suami bawa bekal ke kantor hehe

 

Cimahi, Desember 2011

Because They Are Childrens

Bila kita berhadapan dengan anak-anak, seringkali bahwa apa yang kita fikirkan adalah membentuk mereka menjadi orang dewasa yang mengerti dengan tata tertib dan aturan. KItalah yang maunya dimengerti dan dipatuhi. Kadang kita lupa bahwa mereka mempunyai dunia sendiri, yang jauh berbeda dengan alam dewasa yang kenyang dengan realitas.

Tetapi kita dahulu pernah menjadi anak-anak juga khan ya.

Ada satu penggalan fikiran saya yang terlalu lucu untuk dikenang.

Saya tinggal di desa yang dikelilingi perbukitan permai, hingga membentuk lingkaran dengan cekungannya adalah darata tempat kami berpijak. Dengan segala keterbatasan akal saya di waktu SD itu, satu fikiran sederhana hinggap di benak saya : “Wah, dunia ini Cuma seluas desa saya ya”. Kemudian hari saya bisa tertawa-tawa sebab sungguh dunia ini terlalu luas dan beribu2 pulau di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan seluruh daratan yang ada di bumi. Wow! Kemana aje ya gw waktu itu? Atawa saya juga berfikir bahwa semua orang yang saya lihat dan saya kenal adalah Islam, padahal sungguh majemuk kepercayaan orang di dunia ini.

Maka hari itu, saya setengah mati menahan ketawa melihat sosok imut Raihan, si kecil cilik kelas 1. Saat itu, saya mengawas ujian, posisi saya tentu saja sebagai pembimbing kelas 1 yang masih bingung dengan kata keren bernama UJIAN.

Jangan dikira gampang membimbing mereka, sebab pertanyaan-pertanyaan sering tak diduga : mulai dari yang belum bisa membaca secara lancar sampai tak bisa membaca sama sekali, mulai dari yang tak mengerti bahwa jawaban ditulis di titik-titik sampai kepada tak tahu bagaimana jawaban yang seharusnya.

Sosok polos ini maju ke depan kelas. Lalu bertanya tak mengerti; “Bu, kalau yang ini bagaimana?” Di soal itu tertulis pertanyaan, “Apa yang terjadi jika kita menonton TV terlalu malam?”.

Saya menjelaskan, “Iya ditulis di titik-titik ini lho sayang jawabannya, apa emang jawabannya?”

Polos Raihan menjawab, “Matanya buta”

Huahahahaha, sekuat tenaga saya menahan tawa sampai perut rasanya dikocok-kocok. Lucu, polos, tak terkontaminasi siapapun. Tentu saja saya menahan tawa, bagaimanapun khan setiap jawaban harus dihargai, karena memang sedemikianlah batas pengetahuan atau bahkan imajinasi sang anak.

Raihan terbengong dan dengan susah payah saya berkata, “Ya ya, boleh ditulis jawaban Raihan di sini ya.”

Biarkan imajinasi mereka berkembang melintasi dunia

At Weekend Ceria, 15 Oktober 2011

Ketika Engkau Hadir

Ketika engkau hadir, Nak

Terus terang Bunda agak khawatir

Siapkah Bunda dengan peran baru ini?

Bukan tanpa alasan, Nak

Pertanggungjawabannya amat berat

Sebab tak hanya sampai dunia

Di hari akhir nanti Bunda kan ditanya

Bagaimana engkau mendidik anakmu?

 

Ketika Engkau hadir, Nak

Engkau membawa harapan baru

Harapan untuk kehidupan yang lebih baik

Lebih berwarna dan berdinamika

 

Satu kesyukuran Bunda, Nak

Sebab Bunda tahu mendidikmu

Butuh ilmu dan pemahamam

Pun juga teladan, teladan dan teladan

Kehadiranmu selalu ingatkan Bunda

Untuk rajin memperbaiki diri, sekarang juga jangan ditunda

 

Sebab mendidikmu, dimulai saat ini juga

Membentukmu jadi sholeh/sholehah

Dimulai dari perilaku Bunda ketika mengandungmu

Ingatkan Bunda selalu ya Nak

Untuk lebih dekat denganNya

Agar engkaupun mengenalNya

Sejak engkau belum lahir

 

Cinunuk, 3 September 2011

Untuk calon anakku tersayang

alam takambang jadi guru

Dari mengamati, kita belajar sesuatu. Kalau dalam pepatah Minangkabau, ada sebuah ungkapan yang amat terkenal, “Alam Takambang Jadi Guru.” Bahasa Indonesianya ‘alam berkembang jadi guru’ . Pepatah ini saya dapatkan ketika belajar Budaya Alam Minangkabau yang merupakan muatan lokal di sekolah SMP dulu. Dan ngomong-ngomong saya jadi rindu dengan gurunya yang merupakan wali kelas saya. Anggun, jelita dan sangat keibuan orangnya. Mudah-mudahan Allah meridhainya selalu.

Pada dasarnya semua kejadian yang ada di sekeliling kita, adalah pelajaran bagi kita….wah, ada pantunnya tuh dalam bahasa Minang, panjang banget…nan buto paambuih lasuang……etc lupa lagi soalnya hihi. Maka alangkah ruginya karena beratus kejadian yang kita lihat sehari-hari namun tak kunjung jua kita ambil pelajarannya.

Seperti pada hari ini……….

Puluhan hari sejak ujian nasional berlangsung.

Haris namanya. Eh, ini nama asli lho. Anaknya bongsor, putih dan ganteng. Melihatnya yang baru kelas 6 SD seperti melihat anak SMA, abis bodynya gede sih. Seorang temannya yang iseng dan terkenal jail menggelarinya “bayi raksasa” haha dasar anak-anak.

Dia dulu pernah les English, pintar dalam berbahasa Inggris. Kemampuan komputernya juga hebat. Sedari kelas 6 sudah terlatih mengoperasikan laptop di rumahnya. Tak sekedar mengenal Excel atau Word atau Powerpoint, namun sudah bisa mengoperasikan Corel dan Photoshop. Hebat dong, saya aja bisa mengetik itu pada waktu SMA. Hehe, ketinggalan jaman banget.  Anaknya cerdas, daya tangkapnya bagus.

Orangtuanya yang cukup berada cukup mensupport perkembangan dirinya.

Hanya satu yang saya lihat kekurangannya.

Dia kurang sekali daya juangnya!!

Sengaja memakai tanda seru yang banyak.

Sifat easy going yang berlebihan ada pada dirinya. Terlalu santai. Padahal ketika ditanya ingin kemana dia melanjutkan SD, jawabnya malah ke SMP ter-favorit di kota Bandung. Melihat daya tangkapnya terhadap materi ajar yang bagus, saya optimis  he can do it!

Namun jarang sekali saya lihat daya juang dan kesungguhannya. Tidak tampak dia melebihkan usaha untuk diterima di tempat yang juga lebih. Tak ada outstandingnya.

Hebatnya dalam kondisi seperti itu dia masih bisa meraih nilai UN 23, sekian. Nah, ketika mendaftar ke SMP unggulan tersebut ternyata dia tak diterima karena nilai tak mencukupi. Nilai terendah yang diterima adalah 25, sekian.

Saya agak termenung waktu itu. Apakah saya kurang tegas dalam memotivasinya? Namun, nasehat rasanya sudah banyak, dan saya berkesimpulan, adakalanya seseorang baru menjadi baik setelah ‘terjatuh’. Karena pengalaman berbicara lebih banyak daripada sekedar kata-kata. Bisa jadi itu adalah teguran secara tidak langsung untuknya.

Atau mungkin ada maksud tertentu Allah di balik semua ini.

Ketika bertemu dengannya saya tersenyum prihatin. Merasa berempati, saya hanya bisa mengatakan ‘ya, semoga lebih baik di sekolah yang baru ya’.

Kejadian ini mengukuhkan semangat saya, bahwa tak masalah dengan seberapa kemampuan kita saat ini, jika kita mengasahnya dengan kesungguhan dia akan menjelma jadi dahsyat. Sebaliknya walau kita memiliki potensi yang ok dan besar namun jika tak diasah, tetap akan tersimpan selama-lamanya.

Maha Kuasa Allah dengan segala ilmunya.

At the Saturday night 09.00 p.m

Memaknai Sabar Tiada Bertepi

Jarum menunjukkan pukul 21.19 WIB.

Hampir semua orang tenggelam di balik selimut nya di kedinginan udara cimahi. Di luar kudengar suara motor tetangga sudah dimasukkan ke dalam rumahnya (maklum beliau tak punya garasi motor). Suasana di luar mulai sunyi sepi. Sampai detak jam pun berubah kencang. Sudah beberapa malam, tetangga sebelah seperti raib menghilang. Tak pernah pulang, rumah selalu gelap. Wah, jadi tambah sepi aja punya tetangga supersibuk.

Sampai jam segini, mataku masih berjaga. Hfff ngantuk , letih bercampur rindu jadilah gado2 hehehe ga ding jadilah kombinasi perasaan GJ.. Masih menunggu suami pulang dari kajiam rutin mingguan yang biasanya datang jam setengah 12..huaaaaaaa artinya 2 jam lagi dong…

Pengorbanan, inilah rasanya…jika dahulu bilang pengorbanan, maka sekarang adalah masa pembuktian. Tetap ketika menjalaninya perasaan berat itu ada. …………………Saya jadi teringat dengan salah seorang teman yang menjalani masa masa berat dalam kehidupannya. ……”Segala kondisi dalam kehidupan ini harus disyukuri, ketika melajang dan bisa kemana-mana sendiri bersyukurlah….Ketika sudah menikah, bersyukurlah,….ketika harus melahirkan dan mengurus anak dengan segala kesibukannya justru juga harus disyukuri….”ungkap teman saya yang sedang menjalani tesis S2 plus wakil kepala sekolah dan baru beberapa bulan mempunyai anak pertama.

Belajar mensyukuri apa yang ada……….

Cimahi, 16 Juli 2011

^_^ dalam kesendirian ^_^

Keep Your Brain

Kali ini, saya sedang seru-serunya belajar tentang otak. Brain in English…. Sejak saya belajar psikologi kognitif, saya amat tertarik dengan cara otak bekerja, bagaimana cara memaintenance otak dan sebagainya. Kebetulan saat saya dan suami tercinta sedang jalan-jalan ke Islamic Bookfair, saya menemukan buku bagus banget di stand MIZAN. Buku yang membuat impian S2 saya kembali menggebu (semoga dimudahkan Allah pada saatnya).

Buku itu berjudul Unlimited Potency of Of the Brain…

Here is the simple notes about this book….

Otak adalah bagian tubuh yang sangat berharga. Saking berharganya, orang-orang yang akademik amat mengagungkan benda yang satu ini.  Namun, otak takkan berkembang dengan baik begitu saja, tanpa ada upaya untuk merangsangnya hingga dapat berfungsi dengan baik.

Salah satunya adalah memberikan informasi yang dapat merangsang otak. Tak sembarang informasi mampu merangsang otak, informasi tersebut mempunyai syarat-syarat sebagai berikut;

  • Menantang. Lakukan sesuatu yang tidak lazim. Jika sering bermotor, maka coba pergi ke suatu tempat dengan angkot. Jika biasa menulis pake tangan kanan coba pake tangan kiri. Jika biasa mengirim instant messenger ke teman kantor, cobalah berjalan dan temui langsung orang yang bersangkutan.
  • Baru. Belajarlah sesuatu yang baru. Misalnya bahasa daerah tempat lain. Cobalah belajar bahasa Spanyol, Arab, Jerman (coba cari ungkapan-ungkapan sederhana seperti selamat pagi, terimakasih, maaf dan sebagainya). Jika tak pernah memasak, cobalah memasak masakan sederhana (asal jangan mie rebus hihi)
  • Bermakna. Lakukan sesuatu yang bermakna dan memberi nilai buat diri Anda sendiri. Misal; jadi relawan pada hari libur, membuka taman baca gratis untuk anak tak mampu, memberi hadiah pada sahabat atau saudara, menemani orangtua yang jarang dikunjungi seharian, menghibur teman yang sedang menangis dan sebagainya.
  • Umpan balik. Bila Anda melakukan sesuatu lalu gagal, carilah sebabnya lalu perbaiki. Misalkan, gagal membuat sebuah karya. Daripada Anda kecewa berlarut-larut, cobalah cari cara lain untuk melakukannya hingga mendapatkan hasil yang lebih baik.
  • Waktu. Cukupkan waktu mengerjakan sesuatu. Membuat tulisan bagus, hingga diterima dan diakui media massa terkenal tak bisa dengan sehari semalam. Perlu pembiasaan dan latihan yang berulang-ulang serta umpan balik hingga tahu bagaimana membuat tulisan yang lebih baik. Jika waktu terlalu pendek, maka sinapsis takkan terbentuk dengan sempurna.
  • Multimodalitas. Sebisa mungkin apa yang kita lakukan merangsang lebih dari 1 modalitas. Yang dimaksud misalnya modalitas gerakan, suara, gambar dan sebagainya. Itulah sebabnya, menonton atau video, selalu merangsang otak lebih baik daripada membaca.

Selamat membaca, tak hanya kaum akademis, orang awampun insya allah dapat memahaminya.

Cimahi, 4 Juli 2011

Resep Gulai Pedas ala Padang

Alhamdulillah, pagi ini liburan bersama. Hari keluarga, sebut saja begitu. Tentu selayaknya judulnya, merupakan moment yang asyik untuk bercengkrama, bersenang-senang dan melakukan kegiatan fun bersama keluarga.  Namun, sedihnya hari ini suami saya tercinta tetap masuk kantor. Wuah, pasalnya pada hari kerja pernah ada libur massal se-kantornya hingga sekarang tibalah saatnya untuk menggantikan libur tersebut dengan  libur hari ini. But, tetap ceria aja. Insya Allah sedang menyiapkan sebuah kejutan untuk my lovely.

Nah, liburan kali ini saya manfaatkan untuk  masak-masak dan beberes rumah. Beberes rumah dimulai dari nyapu semua lantai, termasuk bawah kasur, ngepel semua yang sudah disapu, nyetrika, mencuci baju satu ember besar. Nah memasak saya jadi bingung mau masak apa. Nah, kefikiran deh untuk masak gulai padang. Dulu khan makanan favorit dan juga sering dimasak waktu nge-kost di SMA. Sempat deg2an juga, eh bisa ga ya…namun dicoba terus dan terus mengingat, apa yah bumbunya…

Nah, yuk kita simak apa saja bumbunya. Boleh dicoba, insya allah bisa menjadikan waktu produktif dan juga keakraban dalam keluarga lebih hangat.

Bahan

Kentang seperempat kg

Teri satu ons

Telor puyuh 15 buah/telor biasa 4 buah

Bumbu

Kelapa  setengahnya (diperas jadi santan), kalau mau praktis tinggal beli santan kelapa biasanya dijual di pasar tradisional, atau bisa juga santan Kara (tapi yang ini pake pengawet)

Bawang Putih 3 siung

Bawang Merah 5 siung (yang agak besar)

Jahe secukupnya

Lengkuas secukupnya

Daun Serai

Daun kunyit (1 lembar)

Daun salam (1 lembar)

Daun jambu (1 lembar), yang ini ga wajib ada

Kunyit sepotong kecil

Cabe setengah ons (digiling halus)

Garam secukupnya

Cara memasak

  1. Kentang dikupas dan dipotong (bukan di belah).
  2. Bersihkan teri dari kotoran di lehernya.
  3. Rebus telor sampai mateng
  4. Cabe digiling sehalus mungkin bersama garam secukupnya.
  5. Bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, lengkuas yang sudah dikupas dan dicuci dimasukkan secara berurutan. Giling bersama cabe, sehalus mungkin.
  6. Siapkan santan diatas wajan.
  7. Panaskan santan dengan api sedang, sambil terus diaduk. Berhenti mengaduk akan menyebabkan santan menjadi pecah dan ga enak.
  8. Setelah 2 menit, masukkan bumbu yang sudah tercampur dengan cabe
  9. Aduk terus sampai mendidij
  10. Setelah mendidih, masukkan ikan teri. Sambil diaduk, ga usah terlalu sering
  11. 2 menit kemudian masukkan kentang.
  12. 5 menit kemudian masukkan telor yang sudah dikupas
  13. Sesekali diaduk
  14. Setelah semuanya matang, angkat dan sajikan

SELAMAT MENCOBA, SEMOGA SUKSES

CIMAHI, 29 Juni 2011

Home Sweet Home ^_^

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.