alam takambang jadi guru
06 Aug 2011 Leave a Comment
Dari mengamati, kita belajar sesuatu. Kalau dalam pepatah Minangkabau, ada sebuah ungkapan yang amat terkenal, “Alam Takambang Jadi Guru.” Bahasa Indonesianya ‘alam berkembang jadi guru’ . Pepatah ini saya dapatkan ketika belajar Budaya Alam Minangkabau yang merupakan muatan lokal di sekolah SMP dulu. Dan ngomong-ngomong saya jadi rindu dengan gurunya yang merupakan wali kelas saya. Anggun, jelita dan sangat keibuan orangnya. Mudah-mudahan Allah meridhainya selalu.
Pada dasarnya semua kejadian yang ada di sekeliling kita, adalah pelajaran bagi kita….wah, ada pantunnya tuh dalam bahasa Minang, panjang banget…nan buto paambuih lasuang……etc lupa lagi soalnya hihi. Maka alangkah ruginya karena beratus kejadian yang kita lihat sehari-hari namun tak kunjung jua kita ambil pelajarannya.
Seperti pada hari ini……….
Puluhan hari sejak ujian nasional berlangsung.
Haris namanya. Eh, ini nama asli lho. Anaknya bongsor, putih dan ganteng. Melihatnya yang baru kelas 6 SD seperti melihat anak SMA, abis bodynya gede sih. Seorang temannya yang iseng dan terkenal jail menggelarinya “bayi raksasa” haha dasar anak-anak.
Dia dulu pernah les English, pintar dalam berbahasa Inggris. Kemampuan komputernya juga hebat. Sedari kelas 6 sudah terlatih mengoperasikan laptop di rumahnya. Tak sekedar mengenal Excel atau Word atau Powerpoint, namun sudah bisa mengoperasikan Corel dan Photoshop. Hebat dong, saya aja bisa mengetik itu pada waktu SMA. Hehe, ketinggalan jaman banget. Anaknya cerdas, daya tangkapnya bagus.
Orangtuanya yang cukup berada cukup mensupport perkembangan dirinya.
Hanya satu yang saya lihat kekurangannya.
Dia kurang sekali daya juangnya!!
Sengaja memakai tanda seru yang banyak.
Sifat easy going yang berlebihan ada pada dirinya. Terlalu santai. Padahal ketika ditanya ingin kemana dia melanjutkan SD, jawabnya malah ke SMP ter-favorit di kota Bandung. Melihat daya tangkapnya terhadap materi ajar yang bagus, saya optimis he can do it!
Namun jarang sekali saya lihat daya juang dan kesungguhannya. Tidak tampak dia melebihkan usaha untuk diterima di tempat yang juga lebih. Tak ada outstandingnya.
Hebatnya dalam kondisi seperti itu dia masih bisa meraih nilai UN 23, sekian. Nah, ketika mendaftar ke SMP unggulan tersebut ternyata dia tak diterima karena nilai tak mencukupi. Nilai terendah yang diterima adalah 25, sekian.
Saya agak termenung waktu itu. Apakah saya kurang tegas dalam memotivasinya? Namun, nasehat rasanya sudah banyak, dan saya berkesimpulan, adakalanya seseorang baru menjadi baik setelah ‘terjatuh’. Karena pengalaman berbicara lebih banyak daripada sekedar kata-kata. Bisa jadi itu adalah teguran secara tidak langsung untuknya.
Atau mungkin ada maksud tertentu Allah di balik semua ini.
Ketika bertemu dengannya saya tersenyum prihatin. Merasa berempati, saya hanya bisa mengatakan ‘ya, semoga lebih baik di sekolah yang baru ya’.
Kejadian ini mengukuhkan semangat saya, bahwa tak masalah dengan seberapa kemampuan kita saat ini, jika kita mengasahnya dengan kesungguhan dia akan menjelma jadi dahsyat. Sebaliknya walau kita memiliki potensi yang ok dan besar namun jika tak diasah, tetap akan tersimpan selama-lamanya.
Maha Kuasa Allah dengan segala ilmunya.
At the Saturday night 09.00 p.m