Because They Are Childrens
15 Oct 2011 Leave a Comment
Bila kita berhadapan dengan anak-anak, seringkali bahwa apa yang kita fikirkan adalah membentuk mereka menjadi orang dewasa yang mengerti dengan tata tertib dan aturan. KItalah yang maunya dimengerti dan dipatuhi. Kadang kita lupa bahwa mereka mempunyai dunia sendiri, yang jauh berbeda dengan alam dewasa yang kenyang dengan realitas.
Tetapi kita dahulu pernah menjadi anak-anak juga khan ya.
Ada satu penggalan fikiran saya yang terlalu lucu untuk dikenang.
Saya tinggal di desa yang dikelilingi perbukitan permai, hingga membentuk lingkaran dengan cekungannya adalah darata tempat kami berpijak. Dengan segala keterbatasan akal saya di waktu SD itu, satu fikiran sederhana hinggap di benak saya : “Wah, dunia ini Cuma seluas desa saya ya”. Kemudian hari saya bisa tertawa-tawa sebab sungguh dunia ini terlalu luas dan beribu2 pulau di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan seluruh daratan yang ada di bumi. Wow! Kemana aje ya gw waktu itu? Atawa saya juga berfikir bahwa semua orang yang saya lihat dan saya kenal adalah Islam, padahal sungguh majemuk kepercayaan orang di dunia ini.
Maka hari itu, saya setengah mati menahan ketawa melihat sosok imut Raihan, si kecil cilik kelas 1. Saat itu, saya mengawas ujian, posisi saya tentu saja sebagai pembimbing kelas 1 yang masih bingung dengan kata keren bernama UJIAN.
Jangan dikira gampang membimbing mereka, sebab pertanyaan-pertanyaan sering tak diduga : mulai dari yang belum bisa membaca secara lancar sampai tak bisa membaca sama sekali, mulai dari yang tak mengerti bahwa jawaban ditulis di titik-titik sampai kepada tak tahu bagaimana jawaban yang seharusnya.
Sosok polos ini maju ke depan kelas. Lalu bertanya tak mengerti; “Bu, kalau yang ini bagaimana?” Di soal itu tertulis pertanyaan, “Apa yang terjadi jika kita menonton TV terlalu malam?”.
Saya menjelaskan, “Iya ditulis di titik-titik ini lho sayang jawabannya, apa emang jawabannya?”
Polos Raihan menjawab, “Matanya buta”
Huahahahaha, sekuat tenaga saya menahan tawa sampai perut rasanya dikocok-kocok. Lucu, polos, tak terkontaminasi siapapun. Tentu saja saya menahan tawa, bagaimanapun khan setiap jawaban harus dihargai, karena memang sedemikianlah batas pengetahuan atau bahkan imajinasi sang anak.
Raihan terbengong dan dengan susah payah saya berkata, “Ya ya, boleh ditulis jawaban Raihan di sini ya.”
Biarkan imajinasi mereka berkembang melintasi dunia
At Weekend Ceria, 15 Oktober 2011